Minggu, 12 Oktober 2008

Omzet Istana Siak Sehari Rp9 Juta


Salah satu potensi Kabupaten Siak Provinsi Riau adalah Kerajaan Siak yang dipinggirnya terdapat Sungai Siak membentang panjang dan luas. Buktinya, omzet dari Istana Siak dalam satu hari mampu mencapai Rp9 juta perhari.
Kepala Pengurus Istana Siak, Zainuddin menyebutkan, selama lebaran perharinya mampu meraup uang pengunjung rata-rata sebanyak Rp 9 juta. Namun untuk dihari biasa omzet objek wisata Istana Siak terkumpul sekitar Rp2-3 juta.
“Setiap hari besar kurang lebih omzet uang masuk di objek Istana Siak ini rata-rata Rp9 juta, namun di hari biasa sekitar Rp2-3 juta,” tuturnya.
Penyambutan para petugas Istana penuh dengan tatakrama san senyum. Begitu pengunjug akan memasuki Istana Siak, petugas pun langsung mengingatkan untuk menitipkan sandal dan sepatu. Tentunya aturan tersebut sudah merupakan aturan peninggalan di masa kerajaan siak masih berdiri.
“Kalau maun masuk Istana sandal dan sepatu harus dilepas dan dititipkan untuk menjaga budaya kerajaan sekaligus kebersihan,” jelasnya.
Pada dasarnaya, objek wisata Istana Siak dengan mudah dapat dijangkau dengan kendaraan roda dua dan empat dengan kondisi jalan aspal yang masih mulus. Ketika memasuki Perawang, tentunya perjalanan pun diawali dengan menyeberangi Sungai Siak dengan menggunakan jasa Kapal Veri. Sekitar 300 meter pengunjung akan menyeberangi Sungai Siak dengan waktu 15 menit. Setelah menyeberani Sungai Siak, kemudian langsung menuju pusat Kota Kabupaten Siak dengan jalan yang lurus bagaikan jalan tol. Tak jarang pengendara pun terasa bosan karena jalan tidak ada belokan atau tikungan. Dari penyeberangan Sungai Siak sampai pusat Kota kurang lebih lama perjalanan sekitar dua jam.
Ketika pengunjung akan memasuki pusat Kota Kabupaten Siak, langsung di sambut dengan Jembatan yang megah dan panjang dengan kelas internasional. Jembatan yang tangguh itu sengaja dibangun untuk mempermudahkan jalur tranportasi masyarakat dalam meningkatkan pertumbuhan perekonomian.
Tak jarang, setiap orang yang melewati jembatan Sungai Siak itu pasti berhenti sejenak melepaskan pemandangan di bawah sambil melihat aliran sungai Siak yang membentang luas. Dua jam sekali terlihat kapal angkutan barang industri melintasi Sungai Siak. Di samping kanan kiri jembatan tersebut terlihat tidak ada warga setempat yang membuka perdagangan. Hal ini karena memang dilarang oleh pihak pemerintah setempat demi menjaga kenyamanan para pelintas jembatan.
Jika dilihat, corak adat masyarakat Kabupaten Siak masih kental dengan Melayu. Bahasa yang digunakan perhari-hari pun tak jauh beda dengan bahasa orang minang di Sumatera Barat. Begitu juga dengan cara pakaian adatnya, susah untuk membedakan antara Melayu dan Miangkabau. Yang jelas, dua suku ini serumpun yang tidak bias terpisa dan selalu berkaitan dari sisi budaya dan kultur kehidupan sosial.
Nilai-nilai Islam pun dijunjung tinggi sebagaimana pesan moral yang terpampang diberbagai persimpangan jalan utama. “Orang Melayu selalu menjunjung tinggi nilai-nilai agama Islam.” Budaya berdagang juga sudah menjadi ciri masyarakat Siak, dan umumnya para pedagang itu dari Sumatera Barat. Tentunya, santapan makan Sate Ajo asal Pariaman dan rumah makan ampera juga terlihat berjejeran mengisi pasar Kota Kabupaten Siak. (Perjalanan Jurnalisitk Iswanto JA)
Catatan. Foto dan Narasi Iswanto JA

2 komentar:

Fauzan Saputra mengatakan...

Asslm. salam kenal! nice blog!

moridde wahrima mengatakan...

bang iwan sombong baa kabanyo? kapan ke SK lagi bang?