Minggu, 12 Oktober 2008

Saudagar Minang untuk Saudara (?)


Oleh: Iswanto JA
Penulis adalah Putra Djogja tinggal di Padang

Ketika dibagian daerah Provinsi Sulawesi diporak-porandakan dengan bencana longsor dengan skala besar, para putra daerah yeng menyebar diberbagai daerah pun pulang kampung dengan memberikan bantuan uang ratusan juta rupiah. Seperti yang dilakukan Fadli, seorang vocalis Group Padi Band. Fadli pulang kampung dengan membawa ratusan juta uang untuk disumbangkan di kampung halamannya yang rata tertimbun tanah akibat bencana banjir bandang. Aksi sosial Fadli pun disambut dengan gubernur dan bupati setempat karena bangga dengan putra daerah yang sukses tapi tidak lupa dengan kondisi saudaranya di kampung.
Begitu juga dengan Ebit G. AD, ketika Jawa Tengah diratakan dengan gempa bumi, sumbangan ratusan juta mengalir dari kantong pribadinya. Akhirnya, gerakan Ebit sebagai putra daerah pun mampu membendung tetesan air mata saudaranya yang tinggal di Jawa Tengah. Lantunan lagu yang bercerita alam yang diciptakannya itu juga mampu memberi ketenangan batin saudaranya untuk segera bangkit dari kegelisahan dan kesedihan. “Mungkin Tuhan mulai bosan melihat tingkah kita yang selalu sombong dan bangga dengan dosa-dosa.” Itulah sepenggal bait lagu pengobat hati yang dihadiahkan buat orang kampung Ebit yang sedang gundah!
Nah kini, penulis melihat ada satu etnis yang unik dengan tradisi merantau dan pulang kampung membangun nagari. Tentunya suku Minangkabau yang mayoritas terletak di Sumatera Barat kini sedang menggelar Pesta Rakyat Membangun Kampung yang lebih dikenal dengan Silaturahmi Saudagar Minang (SSM). Sebuah acara skala internasional karena yang datang para saudagar atau labih favoritnya para konglomerat Miangkabau dari berbagai manca negara.
Para sudagar Minang itu datang tentunya dengan mobil yang mengkilat, jabatannya pun berentetan melekat pada namanya. Sudah pasti, mereka datang juga membawa ide dan sekabek piti (banyak uang). Dua tahun acara digelar, namun benarkah akhir pertemuan saudagar itu menyentuh saudaranya yang ada di nagarinya?
Ketika Sumbar digoncang gempa yang sempat memporak-porandakan Silunang-Silaut Kabupaten Pesisir Selatan juga Kabupaten Kepulauan Mentawai, sedikit pun tidak ada saudagar Minang yang datang membangun nagarinya yang rata karena bencana alam. Padahal, sanak-saudara yang tertimpa musibah itu menunggu uluran kasih persaudaraan dari orang anak nagari konon banyak yang sukses?
Sebagai orang Jawa penulis sangat tertarik dengan acara yang di gelar orang Minang (SSM) dengan menghadirkan pengusaha sukses. Sebab, dalam jadwal acara tersebut berangkai acara yang bertujuan untuk membangun nagari, seperti, pendidikan, ekonomi, kemiskinan dan pengangguran.
Bagi orang Jawa juga ada acara tersebut yaitu, wong gede ngumpul atau kumpulan wong gede (orang besar berkumpul). Biasanya, bagi orang Jawa jika ada perkumpulan besar menandakan kondisi lagi rumit atau genting dan harus didsikapi secara cepat dan tanggap. Bedanya, yang datang pada kumpulan orang Jawa itu bukan orang kaya, melainkan para Kiyai, Tokoh Masyarakat untuk berkumpul mengeluarkan ide. Gaya yang dipakai juga berpakaian sarung dan belangkon apa adanya.
Penulis tidak sentimen dengan acara orang gede di Minangkabau seperti SSM untuk merapatkan barisan membangun nagari. Tapi tentu banyak yang ingin tahu dengan prinsip merantau bagi orang Minang. Benarkah untuk menjadi orang sukses atau kaya bagi orang Minang harus Merantau? Lalu, konsep merantau bagi Minang sebenarnya seperti apa? Benarkah jika mereka sukses pulang membangun kampungnya? Selain itu, orang Minang sendiri merantau itu apakah karena unsur tekanan ekonomi atau memang sudah budayanya?
Selama ini penulis mendengar dan membaca dari berbagai literature buku Minangkabau, bahwa orang Minangkabau itu merantau pada dasarnya untuk menuntut ilmu dari nagari ke nagari, tentunya belajar ilmu agama. Mereka orang Minang merantau menuntut ilmu sambil membantu masyarakat setempat untuk menambah kebutuhan hidup sehari-hari. Di Pondok pesantren, para santri Minangkabau juga selalu mencari pekerjaan sambilan, baik membantu masyarakat ke sawah, berjualan dan lain sebagainya.
Sudah dua tahun SSM digelar, tentunya masyarakat Minangkabau ingin mengetahui apa yang akan dilakukan untuk membangun nagari. Tentunya perkumpulan tersebut tidak hanya sekedar silaturahmi dengan memaerkan jabatan dan hartanya serta cerita bisnis ke bisnis. Tapi secepat mungkin melirik kondisi masyarakat yang tertimpa musibah bencana sampai saat ini juga belum teratasi.
Tentunya, target dari SSM tersebut mampu menanggulangi para korban bencana gempa untuk sesegra mungkin melakukan sentuhan kasih persaudaraan antara sudagar dengan saudara. Sebab, sampai saat ini media massa di Sumbar selalu bertetiak tentang kualitas pendidikan, ekonomi, kemiskinan, dan pengangguran, namun sepertinya hanya sekedar dibaca sebagai bahan informasi baku. Sedangkan yang diharapkan orang kampung nagari adalah sikap dan komitmen orang rantau untuk turut andil bagian dalam mengatasi masalah sosial yang kian kompleks.
Semoga, Sumbar bangkit dengan berbagai ide yang dilahirkan para pengusaha sukses di hotel berbintang dalam beberapa hari. Penulis yakin, yang menghadiri SSM adalah orang intelektual sekaligus juga mempunyai modal yang cukup untuk membangun Sumbar menatap masa depan yang cerah. (Penulis Mahasiswa IAIN Imam Bonjol Padang, Putra Djogja tinggal di Padang)

1 komentar:

KOMUNITAS ALUMNI SAA mengatakan...

Assalamualaikum

Apa kabar Wan, sehatkan

Semoga sukses aja ya

By. Alumni SAA Thn 2000